Oleh: Dr. Ir. H. Indra Fahmi, M.Si. (Copas dari tulisan Thobroni Kosim, SE.)

Pada hari ini, Rabu 23 September 2026, pukul 13.00 Akithea di FB Alumnus meminta saya untuk menarasikan Profil Rektor IKOPIN UNIVERSITY (IU), kemudian saya sigap menulusuri nama Prof Yudi Azis di Wikipedia, ternyata namanya belum terdaftar. Seseorang yang bergelar Profesor, mantan Dekan Fakultas Ekonomi tidak ditemukan, entah karena hape saya yang jadul, sehingga tidak banyak informasi yang saya dapat di dunia maya. Tapi ketika pencarian diarahkan pada jurnal ilmiah yang ia tulis, maka akan muncul karya-karya Prof Yudi di Sinta dan Scopus.

Seperti cerita banyolan Heri Encode , bahwa Prof Yudi Azis kurang dikenal dalam sosial media, tapi lebih populer dalam karya ilmiah. Berbanding terbalik dengan Heri Encode sang Raja Ngecapruk dan sutrada Film Koboy Selon, dimana filmnya tidak pernah tayang hanya sebatas poster. Kebalikan dari Heri Encode justru Prof Yudi bekerja dalam sunyi dimana karya ilmiahnya menjadi rujukan mahasiswa dan peneliti.

Bisik-bisik tetanggapun bergulir, siapa yang membawa Prof Yudi Azis ke IU ??? Para pengamat mulai menerka-nerka apakah dari akses Menteri Koperasi yang juga ketua alumni UNPAD, tebakan ini sangat logis, namun siapa yang merekomendasi Prof Yudi Azis ke Feri Juliantono, ini yang menarik kita telusuri.

Apakah Dr. Burhanuddin Abdullah mantan rektor IU, tokoh Jawa Barat yang memiliki jejaring luas di dunia perbankan dan sering menghadiri kegiatan di UNPAD. Seperti dugaan dari Afriyance Nasri bahwa Yudi Azis adalah orang dekatnya Burhanuddin Abdullah, ternyata dugaan tersebut meleset. Lalu siapa yang membawa Yudi Azis ke IU ???.

Kalau saya mengingat kembali pada peristiwa Pengukuhan Guru Besar Prof Engkos Achmad Kuncoro di Binus pada tahun 2022, dimana Prof Yudi Azis duduk berderet di panggung sebagai Guru Besar Tamu dari Unpad. Saya melihat hubungan keduanya sangat akrab, ternyata kedunya berhubungan ketika Prof Yudi menjadi Ko Promotornya Engkos, pada saat mengambil program doktor manajemen bisnis di Unpad pada tahun 2012.

Profil Prof Yudi Azis

Yudi Azis memiliki tiga gelar pada program Sarjana Srata-1 (S1) dari dua kampus bergengsi di Jawa Barat, yaitu ITB dan UNPAD. Hanya segelintir mahasiswa yang memiliki tekad dan kemampuan seperti Prof Yudi Azis. Kuliah di dua kampus dengan jurusan yang sulit seperti Fisika di ITB dan jurusan Manajemen yang jurusan favorit di UNPAD.

Dari ketiga gelar sarjana S1, Sarjana Manajemen bergelar SE yang ia peroleh di UNPAD, S.Si Sarjana Fisika yang ia peroleh di ITB, dan S.Sos Sarjana Sosial dari FIKOM yang ia peroleh dari Universitas Terbuka.

Kemudian Yudi Azis meneruskan S2 Teknik dan Manajemen Industri, pada Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan gelar MT, dan melanjutkan S3 di Tokyo Institute of Technology, Jepang dengan gelar Ph.D.

Maka gelar lengkapnya adalah Prof Yudi Azis, SE, S.Si, S.Sos, MT, PhD,.

Saat ini usia Prof Yudi Azis baru 48 tahun dan meraih guru besar dalam usia 42 tahun.

Prof Yudi Azis menjabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran periode Januari 2018–Januari 2021. Setelah itu menjabat Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNPAD dari tahun 2021 – 2022. Dan hingga kini masih menjadi Anggota Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) Pemerintah Propinsi Jawa Barat.

Sang Master Mind

Kehadiran Prof Yudi Azis merupakan hadiah terindah buat IU, pengalaman memimpin di UNPAD, juga menjadi tim ahli di Propinsi Jawa Barat serta jejaring nasional maupun international yang ia miliki, diharapkan bisa bersinergi dengan potensi yang ada di IU termasuk dengan sang master mind IU.

Sang –Master Mind- berperan besar pada perubahan dari Institut ke Universitas, adalah juga sosok yang membidani banyak universitas –from zero to hero, — dialah Prof Engkos Achmad Kuncoro.

Apabila Nusa Putra sering disebut dalam FB Group Alumnus sebagai kampus yang menjadi contoh atau Benchmark bagi kampus lain, dibelakangnya ada nama besar Prof Engkos Achmad Kuncoro yang merancang bangun Nusa Putra. Hingga saat ini sang ownernya masih konsultasi dan melibatkan Engkos dapam kebijakan yang krusial.

Pada saat IU berubah dari Institut ke Universitas dan baru setahun yang dipimpin Dr. Burhanuddin Abdullah, YPK mengganti Burhanuddin Abdullah kepada Prof Agus Pakpahan.

Rektor yang baru membawa tim dan gagasan tentang strategi penyelamatan IU. Sehingga rancang bangun yang disiapkan oleh Prof Engkos Achmad Kuncoro tidak menjadi pedoman bagi pejabat yang baru.

Rektor dan jajarannya dengan pengalaman dan keahliannya mulai merombak struktur IU menjadi lebih gemuk yang diharapkan meningkatkan produktivitas dengan target 1.000 mahasiswa setiap tahunnya.

Janji tersebut tidak terbukti, Rektor Prof Agus Pakpahan yang memiliki hubungan khusus dengan Ketua Dewan Pembina YPK Dr. Muslimin Nasution mendapat dukungan penuh.

Ketika perubahan pada struktur dewan pembina terjadi, kemudian YPK mengadakan evaluasi yang menyarankan Wakil Rektor cukup 2 saja.

Saran dari YPK ditentang oleh Rektor Prof Agus Pakpahan dan mempertahankan komposisi empat WR.

Setelah itu hubungan makin meruncing antara Rektor dan YPK. Kemudian YPK melalui surat resmi yang isinya mempersilahkan mundur kalau visi dan misi nya sudah tidak sejalan.

Kemudian Rektor dan para wakilnya melakukan pengunduran diri masal.

Pada saat penerimaan mahasiswa baru Prof Agus Pakpahan masih memimpin proses Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tanggal 14 September 2026.

Diakhir kepemimpinan Prof Agus Pakpahan jumlah mahasiwa IU masih di bawah angka 400 mahasiswa dan sampai saat ini masih dibuka proses penerimaan mahasiswa baru.

Hubungan yang Bersinergi

Yudi Azis masih muda dan meraih banyak prestasi termasuk penghargaan Most Favourite Lecture di ajang FEB Awards 2022, pada saat itu Prof Yudi menjabat sebagai Kaprodi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNPAD.

Maka apabila disandingkan dengan pengalaman Prof Engkos Achmad Kuncoro dan kemampuan Prof Yudi Azis, bisa dibilang duet maut yang saling bersinergi. Keduanya diharapkan memiliki chemistry dan komunikasi yang efektif, agar program yang telah disiapkan oleh YPK benar-benar bisa dilaksanakan oleh Rektor.

Bagi Engkos Achmad Kuncoro momentum tahun ini sangat penting, karena Menteri Koperasi mendukung penuh masa depan IU.

Apabila program PTKL jauh panggang dari api, maka dengan semangat muda yang menggelora diharapkan sang nahkoda bisa merangkul semua stake holder, termasuk alumni IU yang memiliki peran kuat bagi masa depan IU.