Ketika saya mengajar mata kuliah Kewirausahaan sekitar tiga tahun lalu, ada sosok mahasiswa yang agak different. Duduk selalu di depan, tak pernah terlambat, dan seingat saya hampir setiap kuliah selalu bertanya atau menanggapi. Antusias, tetapi tidak “meledak-ledak”.

Untuk praktik atau magang (saya lupa persisnya), Liana pernah meminta arahan tempat usaha. Melihat keseriusannya, saya arahkan ke perusahaan “Serba Susu” di Lembang, perusahaan yang tumbuh dari bawah dan kini telah memiliki tujuh outlet, beberapa di jalan tol dan Paris Van Java. Kebetulan saya punya akses dengan owner-nya.
Namun Liana keberatan karena tidak punya biaya untuk pergi ke sana.

Liana memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibunya seorang single parent. Saat SMA di SMAN 1 Tanjungsari (?) dan pandemi Covid-19, ia sudah berbisnis. Berbisnis jarena kepepet. Saat itu kantin sekolah tutup, ia menjajakan risoles buatan ibunya dari kelas ke kelas, door to door langsung menemui teman2nya saat istirahat.
“Ini peluang,” katanya, “karena kantin SMA tutup.”

Saat menyelesaikan studi, Liana juga bekerja paruh waktu. Ia melakukannya karena kini menjadi tulang punggung keluarga, sementara ibunya sudah tidak bekerja.

Skripsi Liana juga tidak sederhana. Ia meneliti konsentrasi malt terhadap karakteristik mikrobiologi dan kimia sikhhe Hanjeli sebagai diversifikasi produk koperasi. Bagi saya cukup asing, tetapi tidak bagi Bu Rini, jebolan S1 UGM dan S2 di salah satu perguruan tinggi di Korea Selatan, sekaligus pembimbing keduanya.
Bu Rini dengan telaten membimbing Liana. Bahkan pernah suatu malam mendampingi Liana ke Laboratorium Gedung E yang sepiiii dan senyap itu.😎

Dalam proses riset, Liana sempat beberapa kali menelepon saya karena terkendala dengan KWT Hanjeli (Umi Annisa) dan penggunaan laboratorium hingga malam. Ia bahkan pernah sendirian di Laboratorium TekPang Gedung E sampai sekitar pukul 21.00 dan diingatkan satpam untuk mengakhiri kegiatan. Tentu demi keamanan.
Namun Liana punya alasan: penggunaan mikroba memang membutuhkan waktu hampir 24 jam. Bu Rini pun membenarkan hal tersebut.
Akhirnya, persoalan itu dapat diselesaikan dengan baik.

Pada fase penyelesaian skripsi, Liana nyaris “wayangan”. Pernah pula ia bermalam di rumah Bu Rini, yg kebetulan tempat Liana bekerja paruh waktu. Energinya bak Energizer, tiada hentinya he..he..

Dan akhirnya, Selasa malam pukul 20.45, di Ruang Sidang Fastek, Liana yang ambisius, gigih, dan memiliki daya ingat kuat itu dinyatakan LULUS dengan IPK 4,0 oleh Pak Nanang selaku pimpinan sidang.
LUAR BIASA

Alhamdulillah.