Oleh Yakimsya Ahmad – Pengawas KKB IU COOP – Sekretaris Majelis Pakar DEKOPINWIL JABAR

Jika koperasi hanya dipandang sebagai instrumen ekonomi, maka ia akan mudah terserap dalam logika kapitalisme. Namun jika dipahami sebagai ideologi sebagai sistem nilai yang menempatkan kerja sama, kesetaraan, dan keadilan sebagai prinsip utama maka koperasi memiliki potensi untuk menjadi kekuatan transformasi yang nyata.

Ideologi dalam koperasi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan justru harus diperkuat. Ia adalah fondasi yang memberikan arah dan identitas. Tanpa ideologi, koperasi akan kehilangan jati dirinya dan terjebak menjadi sekadar perusahaan biasa. Dengan ideologi, koperasi dapat menjadi gerakan sosial-ekonomi yang mampu menantang dominasi kapitalisme.

Karena itu, revitalisasi koperasi harus dimulai dari pemurnian kembali nilai dan prinsipnya. Pendidikan koperasi menjadi kunci. Anggota tidak hanya perlu memahami aspek teknis pengelolaan usaha, tetapi juga nilai-nilai yang mendasarinya. Tanpa pemahaman ini, koperasi akan mudah diselewengkan atau kehilangan arah.

Selain itu, praktik koperasi harus mampu menunjukkan keunggulan nyata. Koperasi harus efisien, profesional, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Teknologi digital, misalnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan dan meningkatkan daya saing. Namun semua itu harus tetap berada dalam kerangka nilai koperasi, bukan sebaliknya.

Pada akhirnya, koperasi adalah tentang pilihan peradaban. Apakah kita akan terus mempertahankan sistem yang didorong oleh kompetisi tanpa batas yang melahirkan ketimpangan dan konflik atau kita berani membangun sistem yang berlandaskan kerjasama dan keadilan?