Oleh: Ir. H. Agus Pakpahan, Ph.D., M.Si. (Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Prolog: Dua Perjalanan, Satu Sungai, Satu Transformasi
- Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Seorang pemuda berusia 20-an tahun menyusuri sungai terpanjang di Indonesia ini dengan perahu klotok. Dari Pontianak ke Meliau, Sanggau, Sekadau, hingga berakhir di Sintang. Satu tempat satu minggu. Seorang diri. Tugasnya: survey sosial ekonomi karet rakyat. Apa yang dilihatnya? Kemiskinan yang menusuk. Harga karet tak cukup menghidupi keluarga, membuat petani sulit bertahan. Masa keemasannya telah pudar. Pendidikan nyaris tidak terjangkau. Harapan tipis.
Juli 2025. Sungai Kapuas yang sama. Kini pria berusia menjelang 70 tahun itu kembali. Menghadiri International Workshop tentang koperasi di Pontianak, kemudian melakukan kunjungan lapangan ke Sekadau dan Sintang. Apa yang ditemukannya? Revolusi ekonomi yang sulit dipercaya. Kemiskinan turun dari >30% menjadi 5,66%. Petani yang dulu susah kini jadi pengusaha. Anak-anak yang dulu tidak sekolah kini jadi sarjana.
Dan di tengah transformasi luar biasa ini, dia menemukan “apel”nya—seperti Isaac Newton menemukan apel yang menyadarkannya akan hukum gravitasi.
Apel itu bernama: Credit Union Keling Kumang (CUKK).
Bab 1: Sungai yang Sama, Dua Dunia Berbeda
Kapuas 1979: Sungai Penderitaan
Perjalanan dengan perahu klotok itu mengungkap realitas pahit:
Di setiap dermaga yang disinggahi:
· Petani karet dengan mata redup, hasil panen tidak cukup untuk hidup layak
· Anak-anak dengan seragam lusuh, banyak yang putus sekolah
· Ibu-ibu dengan beban ganda: mengurus keluarga dengan sumber daya minim
· Angka kemiskinan: Lebih dari 30% di Sekadau dan Sintang
· Ekonomi: Hampir mati, bergantung pada karet dengan harga yang menyiksa
Catatan survey 1979:
“Masyarakat pinggir Kapuas terjebak dalam siklus kemiskinan struktural. Tanpa akses keuangan, tanpa pendidikan memadai, tanpa alternatif ekonomi. Masa depan suram.”
Kapuas 2025: Sungai Harapan
Perjalanan Juli 2025 menampilkan transformasi yang sulit dipercaya:
Di dermaga yang sama:
· Petani karet kini juga pengusaha kakao dan aren
· Anak-anak dengan seragam rapi menuju SMK Keling Kumang atau Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK)
· Ibu-ibu dengan usaha mandiri, percaya diri
· Angka kemiskinan: 5,66% di Sekadau (2024)
· Ekonomi: Hidup, beragam, tumbuh
Catatan Juli 2025:
“Sungai Kapuas yang sama, tapi dunia yang berbeda. Dari kemiskinan yang menghimpit menjadi kemakmuran yang membahagiakan. Dan perubahan ini bukan karena program pemerintah atau bantuan asing, tapi karena keajaiban bernama CUKK.”
Bab 2: Momen “Apel” Newton di Sintang
“Apel” Itu Jatuh di Kantor CUKK Sintang
Seperti Newton yang duduk di bawah pohon apel di Woolsthorpe, saya berdiri di kantor CUKK Sintang Juli 2025. Dan “apel” itu jatuh—bukan dari pohon, tapi dari data dan cerita nyata:
Data yang mengguncang:
· 1993: 12 orang, Rp 291.000, ruangan 4×4 meter
· 2025: 232.200 anggota, Rp 2,3 triliun aset, 79 kantor
· Kemiskinan: Dari >30% menjadi 5,66%
· Dan semua tanpa: Bantuan pemerintah, pinjaman bank, investor asing
“Apel” pertama: Trust lebih kuat dari kontrak. 41% pinjaman tanpa agunan, 97,8% dibayar tepat waktu.
“Apel” kedua: Pertumbuhan organik lebih kuat dari pertumbuhan instan. Dari 109 anggota menjadi 232.200—alami, bertahap, berkelanjutan.
“Apel” ketiga: Skala besar bisa tetap manusiawi. 232.200 orang tetap seperti keluarga besar.
“Apel” keempat: kemiskinan, ketertinggalan wilayah, dan kelangkaan sumberdaya termasuk rendahnya rata-rata lama pendidikan bisa menjadi ruang transformasi sosial-ekonomi dengan modal kekeluargaan, kebersamaan dan gotong royong.
“Apel” ke lima: pikiran Pendiri Republik Perumus Pasal 33 melampaui zamannya, pemikiran lompatan kuantum apabila bisa dipahami dengan keikhlasan untuk mendalaminya secara kuantum pula.
Bab 3: Laboratorium Ekonomi di Ruangan 4×4 Meter
Eksperimen Sosial yang Mengubah Segalanya
Maret 1993, ketika saya masih memikirkan data survey 1979 yang suram, di Tapang Sambas, Sekadau, 12 orang biasa memulai eksperimen berani:
Hipotesis sederhana: Bisakah orang miskin membangun ekonomi sendiri berdasarkan asas kekeluargaan untuk membangun usaha bersama secara mandiri?
Metodologi:
- Kumpulkan uang seadanya (Rp 291.000)
- Berkumpul di ruangan 4×4 meter
- Saling percaya
- Saling bantu
Hasil setelah 32 tahun: Bukan hanya “bisa,” tapi “luar biasa bisa!”
Bab 4: Tiga Hukum Ekonomi Baru dari Sungai Kapuas
Hukum Pertama: Inersia Kepercayaan
“Kepercayaan yang terbangun akan membangun dirinya sendiri, menciptakan momentum ekonomi yang tak terhentikan.”
Bukti dari perjalanan 2025:
· Di Sekadau: Ibu Siti (nama samaran) dapat pinjaman Rp 5 juta tanpa agunan tahun 2000. Kini punya usaha catering yang mempekerjakan 10 orang.
· Di Sintang: Pak Andi (nama samaran) petani karet tahun 1993, kini pengusaha kakao dengan omset Rp 200 juta/tahun.
· Common denominator: Kepercayaan sebagai modal utama.
Hukum Kedua: Pertumbuhan Organik Non-Linear
“Perekonomian sehat tumbuh seperti pohon, bukan seperti mesin.”
Pola yang saya saksikan 2025:
Fase Akar (1993-2000): Lambat, dalam, membangun trust. 109 → 25.000 anggota.
Fase Batang (2001-2010): Ledakan pertumbuhan setelah fondasi kuat. 25.000 → 120.000.
Fase Cabang & Buah (2011-2025): Berbuah lebat, diversifikasi. 120.000 → 232.200 dengan spin-out usaha.
Hukum Ketiga: Superposisi Keanggotaan
“Dalam ekonomi sejati, setiap orang adalah multipel peran sekaligus.”
Observasi di Keling Kumang Mart Sekadau:
Saya melihat seorang ibu:
· Sebagai penabung: Menyimpan hasil jualan
· Sebagai peminjam: Meminjam untuk perluasan usaha
· Sebagai konsumen: Belanja kebutuhan sehari-hari
· Sebagai pemilik: Memiliki bagian dari koperasi
· Sebagai investor: Tabungan pendidikan untuk anak
Bab 5: Mekanisme Pengentasan Kemiskinan yang Bekerja Nyata
Dari Survey 1979 ke Realita 2025
Temuan survey 1979: 5 masalah utama:
- Tidak ada akses keuangan
- Pendidikan tidak terjangkau
- Ketergantungan pada karet dengan harga rendah
- Ketahanan pangan rendah
- Kesempatan ekonomi sangat terbatas
Solusi CUKK 1993-2025:
- Akses Keuangan Revolusioner
· Pinjaman tanpa agunan: 41% dari total portofolio
· Bunga ringan: Rata-rata 1% per bulan
· Hasil: 15.620 usaha kecil tumbuh di Sekadau dan Sintang
- Pendidikan sebagai Investasi
· SMK Keling Kumang (terakreditasi B): 1.200 siswa
· ITKK: Kampus pertama di pedalaman, 800 mahasiswa
· Tabungan pendidikan: 45.000 anak terjamin pendidikannya
· Hasil: Angka putus sekolah turun 90%
- Diversifikasi Ekonomi
· Dari karet saja menjadi: kakao, aren, agrowisata, jasa
. Ketahanan pangan berkembang
· Hasil: Pendapatan petani naik 5-10x lipat
Bab 6: “Koperasi Kuantum” – Teori yang Lahir dari Sungai Kapuas
Efek Entanglement yang saya Saksikan
Dalam kunjungan Juli 2025, saya melihat entanglement ekonomi nyata:
Di Sekadau:
Petani A sukses dengan kakao → pinjamannya lancar → CUKK punya lebih banyak dana → bisa pinjamkan ke Petani B → Petani B sukses → dan seterusnya.
Trust sebagai “quantum glue”: Tidak terlihat, tapi mengikat semua. Tidak bisa diukur secara konvensional, tapi dampaknya nyata.
Prinsip Ketidakpastian sebagai Kekuatan
Wawancara dengan pengurus CUKK Juli 2025:
“Kami tidak meminta business plan sempurna. Kami percaya pada karakter orang. Hasil panen tidak pasti, tapi niat baik pasti.”
Inilah ekonomi manusiawi: Bukan angka semata, tapi hubungan. Bukan kepastian matematis, tapi keyakinan moral.
Bab 7: Transformasi yang Terlihat dengan Mata Kepala
Perbandingan 1979 vs 2025
- Pendidikan:
· 1979: Anak petani biasanya sampai SD, banyak yang tidak sekolah
· 2025: Anak petani sampai SMA minimal, banyak yang kuliah di ITKK
- Perumahan:
· 1979: Rumah panggung kayu sederhana, banyak yang reot
· 2025: Rumah permanen, banyak yang punya kendaraan
- Kesehatan:
· 1979: Akses terbatas, banyak penyakit tidak terobati
· 2025: Asuransi kesehatan melalui CUKK, akses membaik
- Mentalitas:
· 1979: Pasrah, tidak berdaya
· 2025: Percaya diri, berdaya, optimis
Bab 8: Filosofi “Keling Kumang” – Kearifan Lokal yang Mengglobal
Kisah di Balik Nama
Dalam kunjungan Juli 2025, seorang tetua Dayak bercerita:
“Keling adalah leluhur Bapaknya orang Dayak: gagah, berani, teladan. Kumang adalah Ibunya orang Dayak: cantik, cerdas, bijaksana. CUKK mengambil nama ini karena ingin organisasinya mencerminkan sifat-sifat terbaik masyarakat kami.”
Manifestasi dalam Organisasi Modern
- Kepemimpinan Melayani:
Manager CUKK bukan “bos” tapi “pelayan anggota.” - Musyawarah Mufakat:
Rapat bukan voting mayoritas, tapi diskusi sampai konsensus. - Gotong Royong Digital:
Teknologi untuk memperkuat, bukan menggantikan, nilai tradisional.
Bab 9: International Workshop 2025 – Belajar dari Kalimantan untuk Dunia
Pontianak, Juli 2025
Dalam International Workshop tentang koperasi, saya menyaksikan:
Dunia belajar dari Kalimantan:
· Peserta dari 15 negara
· Fokus: Bagaimana CUKK bisa sukses seperti ini?
· Kesimpulan: Trust, local wisdom, organic growth
Presentasi data CUKK mengguncang:
· Pertumbuhan anggota: 2.130x dalam 32 tahun
· Penurunan kemiskinan: >30% → 5,66%
· Kemandirian: 100% tanpa bantuan luar
Kunjungan Lapangan yang Mengubah Perspektif
Dari workshop ke realita:
Bus membawa peserta internasional dari Pontianak ke Sekadau. Apa yang mereka lihat?
Di SMK Keling Kumang: Siswa-siswa petani belajar teknologi.
Di Keling Kumang Mart: Ekosistem ekonomi lokal bekerja.
Di kantor CUKK: Teknologi modern dengan jiwa tradisional.
Komentar peserta:
“Kami selama ini berpikir solusi harus dari luar. Ternyata, solusi terbaik justru dari dalam, dari nilai lokal, dari kepercayaan komunitas.”
“Tak perlu pergi ke Spanyol untuk melihat Mondragon. Di sini sudah ada Mondragon Indonesia”, kata peserta dari Mondragon yang hadir dalam acara kunjungan lapang.
Bab 10: Implikasi untuk Indonesia dan Dunia
Pelajaran dari Perjalanan 46 Tahun
1979-2025: Saya menyaksikan sendiri transformasi yang hanya bisa digambarkan sebagai mukjizat ekonomi.
Pelajaran untuk Indonesia:
- Solusi ada di lokal: Tidak perlu menunggu instruksi dari atas.
- Kepercayaan adalah modal utama: Lebih penting dari uang.
- Pendidikan adalah investasi terbaik: Memutus rantai kemiskinan.
- Organik lebih kuat dari instan: Sabar dalam membangun.
Model untuk Dunia
CUKK membuktikan bahwa alternatif ekonomi yang manusiawi mungkin. Di tengah krisis kapitalisme global, CUKK menawarkan:
· Ekonomi inklusif: Tidak ada yang tertinggal
· Pertumbuhan berkelanjutan: Dari dalam, untuk dalam dan sekitarnya
· Kesejahteraan nyata: Bukan angka, tapi kebahagiaan
· Ketahanan krisis: Karena mandiri, tidak terpapar risiko global
Epilog: Dua Perjalanan, Satu Kebenaran
1979: Sungai Penderitaan
Saya muda. Mengarungi Kapuas dengan klotok. Melihat kemiskinan. Mencatat data. Berpikir: “Ada apa dengan negeri ini? Bisakah ini berubah?”
2025: Sungai Harapan
Saya sudah tua. Bersyukur bisa kembali ke Kapuas. Melihat transformasi. Menemukan “apel.” Menyadari: Perubahan mungkin. Bahkan dari tempat yang paling tidak terduga.
“Apel” CUKK dan “Apel” Newton
Newton: Apel jatuh → Hukum gravitasi → Revolusi fisika.
Saya: CUKK bangkit → Hukum ekonomi baru → Revolusi sosial-ekonomi.
Keduanya tentang hukum dasar:
· Newton: Hukum alam semesta
· CUKK: Hukum kodrat manusia bertransformasi ekonomi dengan koperasi.
Perjalanan 46 tahun itu mengajarkan saya:
1979: Kemiskinan bukan takdir. Ia adalah sistem yang bisa diubah.
2025: Perubahan itu nyata. Dan ia dimulai dari hal kecil: 12 orang, Rp 291.000, ruangan 4×4 meter, dan satu tekad: saling percaya.
CUKK telah menulis bab baru dalam sejarah ekonomi. Bab tentang bagaimana rakyat biasa, di pelosok negeri, bisa membangun kemakmuran dengan tangan sendiri. Tanpa bantuan. Tanpa utang. Tanpa menunggu.
Dan “apel” itu—apel transformasi ekonomi—telah jatuh. Bukan di Cambridge seperti Newton. Tapi di Sekadau. Di Sintang. Di tepi Sungai Kapuas.
Sekarang pertanyaannya: Maukah kita memungutnya? Maukah kita mempelajarinya? Maukah kita mereplikasinya?
Karena jika Sekadau—dari >30% kemiskinan menjadi 5,66%—bisa, mengapa daerah lain tidak? Jika 12 orang di ruangan 4×4 meter bisa mengubah nasib ribuan, mengapa kita tidak bisa?
Ilmu ekonomi baru telah lahir. Dari Sungai Kapuas. Untuk Indonesia. Untuk dunia.
Dan seperti Newton yang membagikan penemuannya, saya berteriak: “Telah ditemukan! Telah dibuktikan! Koperasi Kuantum yang manusiawi! Dan namanya adalah CUKK!”
Catatan terakhir: Perjalanan pulang dari Sintang ke Pontianak Juli 2025. Kali ini tidak dengan klotok, tapi dengan mobil. Melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dengan 1979. Sungai yang sama. Tapi dunia yang berubah. Dan di hati saya, satu keyakinan baru: Indonesia bisa. Dari bawah. Dari pelosok. Dari rakyat sendiri.
CUKK adalah buktinya. Apalagi kalau dengan dukungan positif Pemerintah, bisa bertumbuh ribuan model koperasi kuantum CUKK di bumi Nusantara. Inilah amanah Pasal 33 UUD ‘45.
Catatan: Terima kasih saya ucapkan kepada Bang @Masri Sareb yang telah mempertemukan saya dengan CUKK dan kepada Pak @ Dr. Masiun (Ketua CUKK dan Rektor ITKK) yang telah mengundang dan menerima kami dengan kehangatan dan kebaikan luar biasa selama kami berada di Sintang, Sekadau dan Pontianak. Semoga Tuhan YME membalas segala kebaikan Bapak-Bapak semua.