Oleh: Mohammad Fahreza, SE., MM (Dosen Program Studi Sarjana Sains Data Fakultas Sains dan Teknologi)

Semester ini Fakultas Sains dan Teknologi Universitas IKOPIN menjejakkan kaki serentak di lima desa di KabupatenSumedang, bukan sekadar untuk “melaksanakan KKN” dalam pengertian klasik, melainkan membuka halaman pertama sebuah eksperimen ekonomi kolektif yang kami sebut Kampus Berdampak Berbasis Koperasi (bisa disebut KBBK). Sejak awal para dosen mengingatkan bahwa KKN‐kolaborasi ini harus menjadi laboratorium hidup, tempat teori kooperasi modern bertemu kebutuhan riil warga—dan di sinilah tiga program studi Fastek menemukan panggungnya.

Mahasiswa Sains Data diharapkan dapat memulai kerja sunyi mereka jauh sebelum upacara pelepasan. Selama enam minggu terakhir mereka menuliskan skrip Python yang memanen data spasial kepemilikan lahan, pola tanam, hingga kecepatan sinyal seluler di 5 desa yang telah ditetapkan. Dataset itu bukan sekadar angka: ia menjadi fondasi dasbor kooperatif yang kelak memandu keputusan pembiayaan mikro. Begitu koperasi desa resmi berdiri, dasbor akan menampakkan rapor harian—siapa petani yang perlu pupuk lebih cepat, siapa ibu rumah tangga yang stok bahan baku keripiknya mulai menipis, siapa anggota muda yang butuh koneksi Wi-Fi stabil demi usaha konten kreatifnya. Transparansi data ini membuat prinsip “satu orang – satu suara” tidak lagi berhenti pada rapat tahunan, tetapi bergerak dinamis setiap kali warga mengetuk layar gawai.

Sementara itu kelompok Teknologi Pangan nantinya diharpakan mampu menapak lorong‐lorong dapur rumah produksi tempe, tape singkong, dan gula aren. Di titik pertemuan sungai dan ladang mereka menguji shelf-life camilan berbasis sorgum dan merancang proses pasteurisasi sederhana yang bisa dirakit dari panci tekanan bekas. Tujuannya jelas: memberi nilai tambah empat hingga lima kali lipat atas bahan mentah yang selama ini dijual putus ke tengkulak. Resep-resep yang lolos uji laboratorium kecil di posko KKN akan dilisensikan kepada koperasi dalam bentuk open patent; royalti‐nya—meski hanya seratus rupiah per kemasan—ditabung sebagai simpanan wajib anggota muda. Begitulah ilmu pangan bersalin rupa menjadi dividen sosial: semakin kreatif inovasi produk, semakin tebal modal bersama untuk menggulirkan pinjaman pendidikan dan beasiswa.

Di lahan terasering yang memandang kampus, terbentang harapan para mahasiswa Agribisnis berbincang dengan ketua kelompok tani tentang kontrak pembelian maju berbasis Indeks Senyum Petani—indikator sederhana yang menggabungkan harga acuan pasar, biaya produksi, dan margin koperasi. Dengan kontrak itu, petani kopi Lembah Hegarmanah tidak lagi menebak-nebak berapa rupiah yang akan mereka terima tiga bulan ke depan; mereka memegang kepastian angka dan jaminan serap hasil, sedangkan koperasi memperoleh pasokan stabil untuk lini produk roasted bean yang dikurasi teman‐teman Teknologi Pangan. Ketika panen tiba, mahasiswa Agribisnis menyalakan modul blockchain ringan di ponsel, mencatat asal usul biji kopi, nama petani, dan tanggal sangrai. Jejak digital ini membuat satu sachet kopi desa berpeluang menembus pasar urban yang semakin menuntut transparansi rantai pasok.

Semua simpul cerita tersebut nantinya bertaut di balai desa ketika rapat pembentukan Koperasi 🇲🇨 digelar….. Warga, mahasiswa, perangkat desa, dan dosen duduk melingkar; hak suara dibagi rata, tetapi kontribusi keahlian mengalir sesuai ragam disiplin. Para programmer Sains Data mempresentasikan dasbor, tim Teknologi Pangan menyuguhkan biskuit sorgum, dan Agribisnis menayangkan simulasi margin usaha. Tidak ada kesan heroik; yang tampak justru proses pembelajaran timbal balik, di mana teori analitik, formula shelf-life, dan strategi rantai pasok menemukan pembenaran praktis di mata warga. Pada akhir rapat, setiap orang keluar dengan kartu anggota koperasi elektronik di layar ponsel—lambang bahwa KKN kali ini bukan proyek sementara, melainkan embrio ekosistem ekonomi demokratis yang akan terus berdenyut lama setelah spanduk penutupan diturunkan.

Ke depan, dasbor koperasi akan memancarkan data real‐time ke ruang riset kampus; riset akan melahirkan pembaruan algoritma kredit dan desain produk pangan baru; produk desa yang terstandardisasi akan mengisi etalase e-marketplace koperasi kampus; dan laba usaha sebagian dikembalikan sebagai Sisa Hasil Usaha, sebagian lain diinvestasikan menjadi panel surya di atap balai desa. Dalam putaran ini, KKN berubah dari kewajiban kurikuler menjadi katalis transformasi desa—dan Fakultas Sains dan Teknologi membuktikan bahwa sains, teknologi pangan, dan agribisnis dapat berpadu dalam harmoni koperasi yang berdampak.

Sekelumit harapan dari KKN Fastek tahun ini diharapkan memberi dampak bagi seluruh stakeholders dan semoga KKN berjalan dengan lancar dan sesuai hasil yang diharapkan…

“*Malas adalah teh hangat di pagi yang tidak buru-buru. Ia bukan pelarian dari kehidupan, tapi cara untuk kembali ke akarnya …”