23/10/2021
(022) 779-4444

MODERNISASI BISNIS KOPERASI

modernisasi-bisnis-koperasi

Sugiyanto

Dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin)

 

Bisnis Koperasi

Hingga  ulang tahunnya yang ke 74, sektor bisnis koperasi kebanyakan masih bergerak pada sektor konvensional, 79% sebagai koperasi simpan pinjam yang melayani anggotanya dalam bentuk simpanan, pinjaman dan jasa keuangan lainnya. Sisanya 21% bergerak pada sektor riil, yang meliputi koperasi konsumen (13%) seperti toko untuk menyediakan barang konsumsi, koperasi pemasaran (3%) memberikan pelayanan pemasaran produk yang dihasilkan anggota seperti koperasi peternakan sapi perah, dan 5% koperasi pengadaan menyediakan input produksi bagi anggotanya seperti Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) dan lainnya.   Koperasi pemasaran dan pengadaan disebut juga sebagai koperasi produsen. Bisnis kebanyakan koperasi masih belum fokus pada usaha tertentu (single purpose) tetapi masih menyelenggarakan berbagai macam bisnis (multipurpose).  Kinerja usaha koperasi ditandai dengan belum tercapainya skala ekonomi dan masih rendahnya efisiensi usaha, orientasi bisnis belum sepenuhnya pada pelayanan anggota, partisipasi anggota rendah, profesionalisme pengelola masih banyak dikeluhkan, dan hasil yang diharapkan berupa manfaat ekonomi bagi anggota juga masih terbatas pada pembagian sisa hasil usaha  (SHU). Keterbatasan kemampuan akses teknologi, modal, pasar dan sumber daya manusia masih kental terjadi.

Sektor bisnis yang digeluti koperasi di Indonesia rasanya sejak awal tidak banyak berubah, ngene ngene wae (begini-begini saja). Pada saat kejayaan Koperasi Unit Desa (KUD) dan Kopti, dikembangkan berbagai jenis usaha sektor riil yang sesuai dengan potensi wilayahnya masing-masing, dengan dukungan berbagai program dari pemerintah. Setelah program pemerintah dihentikan, berhenti pula perkembangan sektor bisnis ini, bahkan koperasinya pun sebagian besar tinggal papan nama.

Modernisasi Bisnis

Dengan tetap mempertahankan ‘Jatidiri’ nya, perubahan bisnis koperasi mendesak untuk dilakukan menjadi bisnis yang modern agar mampu berkembang cepat, bersaing, berdaya guna bagi anggota dan masyarakat sekitar, dan juga penting agar diminati oleh generasi milenial. Koperasi harus mampu keluar dari kondisi yang usual business ke arah yang unusual business. Bisnis konvensional tidak harus ditinggalkan selama menjadi kebutuhan bersama para anggotanya, tetapi perubahan dan pengembangan bisnis menjadi keniscayaan, core business tertentu harus ditetapkan, bisnis yang menjadi beban perlu ditinggalkan. Bagi pecinta bola, dapat menganalogikan dengan dua kesebelasan Italia dan Spanyol yang harus berhadapan di semifinal, Italia beruntung melalui adu finalti. Yang menarik Italia pernah juara dunia 4 kali, Spanyol pernah juara dunia dan Eropa. Kedua kesebelasan memiliki ideologi permainan Catenaccio vs Tiki-Taka sebagai gaya permainannya. Pada ajang piala Eropa tahun ini kedua manajer merubah gaya permainan sebagai upaya untuk menjadi yang terbaik.

Bagaimana dengan bisnis koperasi di Indonesia? Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah mencanangkan modernisasi koperasi. Pertama melakukan perbaikan ekosistem kemudahan usaha yang memungkinkan koperasi dapat mengakses pasar, pembiayaan dan kapasitas usaha seluas-luasnya. Kedua, menyusun strategi nasional untuk koperasi dan UKM, dan ketiga turbulensi masa pandemi Covid-19 memberikan pelajaran berharga pada usaha koperasi sektor keuangan atau simpan pinjam dan usaha konvensional lainnya.

Modernisasi bisnis koperasi sebagai proses perubahan dari sektor bisnis konvensional menjadi sektor bisnis modern. Banyak determinan yang dipertimbangkan untuk modernisasi sektor bisnis koperasi meliputi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernisasi di bidang ekonomi lebih banyak difokuskan pada proses produksi, distribusi dan konsumsi. Modernisasi bisnis koperasi harus berdampak positif terhadap kemajuan pembangunan koperasi, manajemen berpikir lebih rasional, dan tingkat kehidupan anggota dan masyarakat lebih baik karena berkembangnya bisnis koperasi. Perlu disinergikan program pemerintah untuk modernisasi koperasi di lapangan.

Modernisasi bisnis koperasi yang dimaksudkan tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan digitalisasi dengan berbagai platform yang telah berkembang, tetapi jenis bisnisnya juga harus berubah mengikuti kebutuhan pasar, khususnya anggota sebagai individu yang kebutuhan ekonominya semakin tidak terbatas, dan koperasi perlu melakukan diversifikasi usaha/produk dan jasa pelayanan lainnya sesuai kebutuhan anggota. Koperasi juga harus menyadari bahwa bisnisnya berada pada lingkungan sistem ekonomi pasar yang kental dengan persaingan. Persaingan tidak hanya produk vs produk (industri yang sejenis), tetapi juga dengan produk substitusi, suplier, konsumen, dan yang menjadi tantangan terbesar adalah pendatang baru (new entrance) yang semakin masif dan tentu didukung dengan kekuatan sumber daya penuh, disertai dengan kreatifitas dan inovasi terkini.

Modernisasi bisnis koperasi ‘harus’ melibatkan diri pada sektor ekonomi unggulan nasional seperti pangan, komoditas ekspor, maritim, pariwisata, industri pengolahan lainnya, termasuk jasa dibidang kesehatan, hospitality, perumahan, penyediaan tenaga listrik dan seterusnya. Program Pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menyusun skala prioritas sektor industri menjadi sektor 1 dan 2, sektor industri 1 seperti industri makanan dan minuman, kimia farmasi dan obat-obatan, kehutanan dan penebangan kayu, tanaman hortikultura, perkebunan, penambangan biji logam. Sektor industri 2, seperti: industri kayu, furnitur, peternakan, logam dasar, tanaman pangan, jasa pertanian, pengadaan air, pengolahan tembakau, informasi dan komunikasi, real estate, barang dan logam, kulit dan mesin serta perlengkapannya.

Agar koperasi lebih eksis, kebijakan pemerintah tersebut dapat menjadi pilihan strategi untuk modernisasi bisnisnya. Selain itu, strategi modernisasi bisnis, dapat juga dimulai dengan memformulasikan strategi yang didasarkan pada kebutuhan anggota dan pasar lainnya (member/customer/market based strategy)  dan dapat pula didasarkan pada sumber daya yang dimiliki (resources based strategy). Kombinasi ketiganya menjadi formulasi strategi terbaik.

Modernisasi bisnis koperasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang telah dimiliki, misal bisnis sektor makanan dan minuman. Produk susu telah dikuasai, banyak koperasi telah berbisnis di sektor pertanian, perkebunan sawit dan tanaman pangan lainnya. Sayangnya koperasi hanya memanfaatkan bisnis dalam mata rantai tertentu, pemasaran input untuk perusahaan besar. Sehingga rantai nilai lainnya yang menghasilkan nilai tambah belum dapat dimanfaatkan. Koperasi melalui prinsipnya, memiliki kekuatan, ‘kerja sama antara koperasi’ melalui koperasi sekunder. Yang jelas belum banyak koperasi primer mampu untuk modernisasi bisnisnya, maka koperasi sekunder inilah yang mengambil peran dengan menghimpun kekuatan dari setiap anggota primernya. Beberapa koperasi peternakan telah mencoba memodernisasi bisnisnya dengan mengolah susu menjadi produk yang dikemas atau produk turunan lainnya. Sekaligus juga memodernisasikan bisnis dan organisasinya dengan memanfaatkan teknologi informasi, seperti KPSBU Lembang dan KPBS Pangalengan. Lebih membanggakan KPBS Pangalengan telah membuka bisnis baru pada sektor kesehatan (rumah sakit).

Koperasi yang bergerak di sektor jasa keuangan dan telah menjadi predikat koperasi besar di Indonesia dapat pula melakukan diversifikasi bisnis di sektor riil, atau bergabung bersama membiayai bisnis riil dengan membentuk badan usaha lain. Seperti Koperasi Kredit, yang telah konsisten melakukan kerjasama dengan membentuk Pusat Koperasi Kredit, bahkan secara nasional membentuk Induk Koperasi Kredit, dengan kekuatannya dapat memulai bisnis di sektor riil.

Usaha simpan pinjam masih tetap dipertahankan, sebagai salah satu primadona kebutuhan anggota, perlu diversifikasi produk layanan dengan memanfaatkan platform financial technologi seperti peer to peer lending, dimodernisasi teknologinya. Atau dimodernisasi dengan memanfaatkan perkembangan produk keuangan syariah.

Koperasi juga segera memikirkan potensi bisnis di sektor Ekonomi dan Keuangan Syariah, yang semakin diperhatikan pemerintah dan diminati masyarakat, tidak hanya Muslim. Peningkatan usaha syariah dan pembiayaan keuangan syariah menjadi target capaian pemerintah saat ini. Peningkatan usaha syariah dengan strategi utamanya melalui pemberdayaan ekonomi syariah dengan mamanfaatkan isu Halal Value Chain (HVC) untuk setiap produk dan layanan jasa, kelembagaan dan infrastruktur. Pembiayaan keuangan syariah, dengan pendalaman pasar keuangan syariah dengan memperkuat regulasi, infrastruktur, instrumen, basis investor dan kelembagaan.

Semoga koperasi dapat segera berubah bisnisnya, sesuai dengan perubahan tuntutan kebutuhan ekonomi masyarakat. Peringatan tahun ini dijadikan momentum, jangan hanya sekedar peringatan, mendiskusikan berbagai hal tetapi hanya sampai diskusi saja. Tidak enak kalau disebut ‘nato’.